Kursus Persiapan Perkawinan

Karena kita tinggal di Taoyuan, perubahan dari KPP ke MRT yang terjadi di Jakarta tidak berdampak kepada kita. Dengan membawa surat pengantar dari paroki kami masing-masing, kami mencari Fr Franco di St Christopher Church Taipei, yang adalah moderator komunitas Indonesia di sini. Pertama-tama, Fr. Franco yang adalah seorang Filipina dan menyarankan kami mencari Rm A, imam Indonesia di Hsinchu yang baru-baru ini mengajar kelas persiapan pernikahan untuk pasangan lain. Tapi ketika kami menghubungi Fr A, dia mengatakan bahwa dia akan dipindahkan ke negara lain dan karenanya tidak dapat membantu kami. Kami disarankan untuk mencari romo lain yang ada waktu untuk membantu kelas secara pribadi atau memiliki kelas dalam grup besar di parokinya. Adalah baik bahwa kita mengenal banyak pendeta Indonesia di sini dan saat itu kami memiliki dua pilihan: menghadiri kelas bahasa Mandarin di sebuah paroki untuk 2 hari akhir pekan atau mengadakan kelas privat dengan pendeta Indonesia di Taipei pada hari kerja selama 5 pertemuan dan kami memilih kelas privat di Taipei pada hari kerja meskipun pasti akan melelahkan.

Yang kami dapat selama KPP:

  • KPP itu penting karena pernikahan itu perlu dipersiapkan dan bukan semata-mata karena cinta saja dan dampaknya akan besar antara lain ke masyarakat dan Gereja.
  • Definisi dari perkawinan: PERSEKUTUAN HIDUP – ANTARA SEORANG PRIA DAN SEORANG WANITA – YANG TERJADI KARENA PERSETUJUAN PRIBADI – YANG TAK DAPAT DITA­RIK KEMBALI – DAN HARUS DIARAHKAN KEPADA SALING MENCINTAI SEBAGAI SUAMI ISTERI – DAN KEPADA PEMBANGUNAN KELUARGA – DAN OLEH KARENANYA MENUNTUT KESETIAAN YANG SEMPURNA – DAN TIDAK MUNGKIN DIBATALKAN LAGI OLEH SIAPAPUN, KECUALI OLEH KEMATIAN. Definisi ini dibahas per point sehingga lebih jelas bagi kami berdua, dan yang menjadi model dalam pernikahan adalah cinta Kristus pada gerejaNya, yang tanpa syarat dan kekal. Ini tidak mudah karena menuntut pengorbanan dan pengendalian diri dari masing-masing pribadi.
  • Tujuan dari pernikahan: menjadi bahagia&sejahtera dan untuk keturunan. Menjadi bahagia dan sejahtera ini usaha dari kedua pribadi, harus ada unsur saling di dalamnya: saling mengembangkan pribadi, saling berbagi sehingga keduanya tumbuh bersama. Untuk keturunan, Gereja menekankan bahwa pasangan harus terbuka pada kemungkinan mendapat keturunan dan mendukung KB secara alami, bukan yang buatan yang mungkin berdampak buruk bagi fisik kedua pihak. (ini tantangan juga ya, tantangan untuk menahan hawa nafsu)
  • Syarat dan halangan pernikahan Katolik: Gereja Katholik menekankan pentingnya kebebasan secara utuh dari pribadi untuk melangsungkan pernikahan, bukan karena tekanan/paksaan, juga melihat apakah ada hal-hal lain yang menghalangi pernikahan kedua pihak.
  • Mesti terbuka satu sama lain supaya tidak ada yang terpendam dan akhirnya meledak di saat ada masalah/pertengkaran.
  • Masing-masing harus memikirkan kepentingan pasangannya, kalau selalu seperti ini seharusnya bisa langgeng
  • Masing-masing perlu menurunkan egonya, berani minta maaf, pokoknya harus ada salah satu pihak yang mau mengalah dan masih mau berjuang untuk hubungan ini.
  • Perlu sering-sering menyegarkan kembali kemanisan hubungan, misalnya kencan/liburan ke tempat baru
  • Dalam setiap masalah, harus diusahakan solusi yang mempersatukan, bukannya memecah
  • Bila terjadi perselingkuhan, harus diusahakan untuk memaafkan dan tetap berlapang dada (ini sepertinya bagian yang tersulit)

Sepertinya dasar sekali ya, saya jadi kepengen untuk bisa ikutan MRT/Discovery di Jakarta. Walaupun lebih panjang durasinya, materinya pasti lebih banyak dan mendalam, juga ada sharing-sharing dari pasangan yang lebih berpengalaman.

Setelah material dasar selesai dibahas, pertemuan kelima tujuannya untuk penyelidikan kanonik, dimana CPW dan CPP akan diwawancara secara terpisah oleh romo selaku penyelidik. Selama kanonik, romo punya template pertanyaan-pertanyaan dan beliau akan menuliskan jawaban CPW CPP pada formulir template itu. Yang ditanyakan dari materi saja, meliputi kesiapan pasangan untuk menikah dan pemahaman tentang pernikahan itu sendiri. Untuk kasus kami, tipe pertanyaannya adalah ya/tidak, jadi tinggal menjawab pilihan ya/tidak saja. Tapi dengar cerita dari teman, dia ditanya open question tentang materi kursusnya, jadi seperti ujian lisan.

Lima hari (4 x kursus dan 1x kanonik) sudah terlewati, tinggal masalah transfer administrasi dari romo yang melayani kami di sini ke KAJ dan ke gereja tempat pemberkatan. Semoga proses transfer nya lancar dan kalau ada yang kurang, semoga masih ada cukup waktu untuk melengkapinya.

PR berikutnya adalah mengurus administrasi untuk catatan sipil. Ini akan lebih rumit karena kami benar-benar mengandalkan orang tua di Jakarta untuk bolak-balik RT/RW/kecamatan/kelurahan. Hanya bisa berharap semoga administrasi ini tidak dipersulit dan bisa lancar selesai lebih awal. Sebenarnya masih was-was nih, karena dengar kabar sekarang catatan sipil sudah tidak bisa dilayani di gereja, jadi harus datang ke kantornya langsung pada hari kerja. Wah, mana butuh 2 orang saksi pula, mereka kan kerja, masak demi jadi saksi kami, mereka harus cuti? Hmmm, ini masih butuh konfirmasi. Semoga diberi yang terbaik, amin!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s